Siswa Diajari Cinta Lingkungan PDF Print
Monday, 24 November 2008

MENGAJARI anak untuk mencintai lingkungan hidup bisa dimulai sejak dini. Di SDN 12 Bendunganhilir, Tanahabang, Jakarta Pusat, kepada para siswa mulai ditanamkan rasa cinta lingkungan. Kawasan sekolah itu pun kini sangat asri. Di tengah isu pemanasan global yang sedang mencuat, siswa di SD ini sudah diajari rajin menanam tumbuhan dan memilah sampah. Mereka juga diajari membuat kompos dari sampah organik di sekolah.

SD yang terpilih menjadi sekolah peduli dan berbudaya lingkungan atau Adiwiyata Nasional 2007 ini sangat berbeda dibandingkan SDN kebanyakan di Jakarta. Saat Warta Kota masuk ke sekolah di Jalan Taman Bendungan Jatiluhur, Jakpus, ini suasana teduh langsung dirasakan.

Di bagian depan sekolah terdapat taman lalu lintas berupa sejumlah tanaman hias lengkap dengan rambu-rambu lalu lintas. Sebuah kolam air mancur juga terbangun di sisi kanan taman tersebut.

Masuk ke bagian dalam, dinding sekolah digambari mural (seni rupa dinding) yang menggambarkan peperangan melawan pemanasan global. Menuju kantin sekolah, terdapat beberapa tong yang dipasangi keran untuk mencuci tangan. Di sini anak-anak diajari untuk selalu mencuci tangan dengan sabun. Taman di bagian belakang seluas 3.459 m2 ini ditanami sejumlah tanaman obat dan kolam budi daya ikan.

Kepala SDN 12 Benhil Murliati menuturkan, sekolah ini dibangun pada 1974 dengan nama SD Inpres. Saat awal diamenjabat kepsek pada 2004, kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Selain bangunan sekolah sangat rapuh, segala sarana-prasarana juga belum memadai. Belum lagi tumpukan sampah yang menggunung di halaman. "Dulu orang bilangnya ini sekolah gembel. Orang pada nggak mau sekolahin anaknya di sini," ujarnya.

Setelah gedungnya direhabilitasi total oleh Dinas Pendidikan Dasar DKI, Murliati mulai membenahi sekolah. Ia menggandeng beberapa pihak swasta untuk ikut serta membangun sarana-prasarana sekolah. Dia antara lain menghubungi Pertamina, BRI, General Electric, dan Exxon Mobil. Para guru juga mendapatkan pelatihan mengajar dari Jakarta International School (JIS).

Gedung tiga lantai ini kini memiliki laboratorium komputer, laboratorium IPA, dan musala. Organisasi pencinta lingkungan dunia, Green Peace, juga pernah datang dan membawa panel tenaga surya ke sekolah ini. Beberapa waktu lalu, para siswa mengadakan kunjungan ke kapal milik Green Peace di Tanjungpriok, Jakut.

Budaya perilaku hidup sehat dan pembinaan kecintaan terhadap lingkungan selalu diajarkan. Untuk ke kamar mandi, misalnya, tidak terkecuali anak, guru, maupun tamu, diwajibkan membuka sepatu. Setiap peringatan Hari Bumi, Hari Air, dan hari bersejarah lainnya, sekolah ini juga merayakan. Para siswa tak hanya berprestasi dalam bidang akademik, tapi juga sering diundang untuk mengisi kegiatan drum band, tari, dan pramuka oleh beberapa instansi pemerintah.

Wakil Ketua Komite Sekolah Hazniel Tiara mengatakan, para orangtua murid ikut serta dalam pembangunan sekolah ini. "Kita ingin membangun SD ini menjadi sekolah negeri yang bagus dan tidak kalah dari swasta. Tidak mungkin kalau hanya mengandalkan dari pemerintah saja," jelasnya.

SD ini juga mewakili Jakarta Pusat dalam Lomba Sekolah Sehat 2008 yang saat ini sedang menunggu hasilnya. Dengan segala keterbatasan dana dari pemerintah, para orangtua berniat terus membangun sarana dan prasarana sekolah menjadi lebih baik lagi.

"Kalau kualitas SDM guru, itu di luar wilayah kami. Tapi, apa yang bisa kita bantu agar sekolah ini baik, akan kami kerjakan. Bukan hanya uang, tapi juga tenaga dan pikiran," jelasnya lagi. (sab)
 
< Prev   Next >

Anda pengunjung ke: 213967